Down to Earth, Up to Heaven

Friday, October 21, 2005

I've been failed!!!

Hari-hari belakangan ini, meski beban stress tugas berkurang, entah kenapa kepala makin pusing. Banyak banget masalah diluar tugas-tugas rutin yang harus diselesein. Parah. Belakangan saya malah ngerasa udah gagal menjadi seorang teman yang baik.

Ada mata kuliah dimana saya lupa kalo teman deket saya tuh gak dating. Sama sekali gak sadar. Dan akibatnya dia ga dapet nilai buat hai itu. Padahal, kalo lebih concern dikit aja, saya bisa nelpon dia sebelum mata kuliah itu mulai. Rumahnya emang deket kok.

Terlalu banyak yang ada dipikiran ini, sampai-sampai yang ada didepan mata pun ga disadari. Akh…..!!!!!!!!!!!!! What should I do now? Why I become like this? I’m not even a half man I used to be....

Sunday, October 16, 2005

You Can Go Through It Guys!

For all my friend
Especially who thinks s/he is a loser...

Kawan, hidup memang tidak mudah...
tidak seperti membalikkan telapak tangan
ataupun memasak air.

Hidup bagai berjalan diatas jalan setapak
kadang berkerikil
kadang terjal berbatu

Sesekali kita perlu untuk memilih
apakah kita berjalan kekiri
ataupun kekanan

Mungkin dalam pilihan itu banyak cobaan yang menerpa
apakah jurang yang dalam
ataupun Topan yang dahsyat

Tapi kawan...
jangan pernah kau sesali hal tersebut
percaya, bahwa tuhan memilihkan jalan yang terbaik untukmu
percaya, bahwa tuhan memberikan ujian sesuai kapasitasmu

Kawan...
jangan pernah sesali keadaan
karena semua cobaan
pasti ada jalan

Saturday, October 15, 2005

Hell Week!

Minggu ini merupakan "hell week" buat saya. Gimana ngga, minggu ini dipenuhi oleh berbagai assignment yang bejubel, belum lagi beban UTS yang ngga ada habis-habisnya. Anak-anak lain pun (teman-teman kampus) tampak udah pada disconect, hang, error, bahkan konslet.
Belum lagi pengalaman yang menyebalkan beberapa hari yang lalu. Ceritanya, hari itu qta mau ngeberesib tiga tugas sekaligus. Tugas Pendahuluan Fisika, Kimia, ama Makalah Olah Raga. Berhubung saya termasuk jenis manusia fotokopi (baca: manusia pemalas yang mengandalkan kelangsungan kuliahnya dari fotokopian orang lain), semua tugas baru dikerjain sesaat sebelum dikumpul.
Dasar pendosa memang dibenci Tuhan. Dua jam sebelum berbagai tugas itu dikumpul, sang sumber ditelepon (karena dismsin kaga bales-bales), adn ternyata dia ga bisa dateng karena Omnya meninggal. Akhirnya, dengan segala daya upaya, peras keringat, pantang menyerah, dan perdebatan alot saya menyusul ke rumahnya tuk ngambil tu fotokopian. Setelah bergelut dengan kemacetan kota dan sang surya yang juga tidak cukup bersahabat kala itu, saya pun tiba di komplek perumahan sang sumber. Ternyata saya beru sadar, saya lupa rumahnya yang mana.
Jam ditangan sudah memberi tahu jika satu setengah jam belum dikumpul itu tugas, maka tamatlah sudah. Segenap kekuatan dikumpulkan, seluruh urat malu diputuskan. Saya ketok salh satu pintu yang dikiranya adalah pintu yang tepat. Lima menit. Lima belas menit. Setengah jam. Bahkan ngga ada seekor kecoapun yang keluar. Teringat kemudian keajaiban teknologi abad 20. Handphone.
Akh.... What stupid person I am. Ternyata, handphone diapun nonaktif. What a luck!!! Setelah menggunakan cara jitu abad 32 (rahasia perusahaan), diketahuilah bahwa saya salah alamat. Rumah yang dituju masih dua rumah lagi. Tanpa pikir panjang dan dengan wajah masih berkeringat darah langsung menuju target. Mission Accomplished.
Sorenya nasib sial masih mengukuti. Setelah kuliah padat dan les yang tiada henti, masih harus diikuti dengan tugaas makalah olahraga yang belum beres siangnya (thanx to Photocopy tragedy). Berhubung baru beres sangat malam, ternyata sang ibunda belum bisa menerima kebiasaan anaknya yang diluar normal ini. Lalu sang ibunda berkata lewat smsny "nak, kamu ngga perlu pulang" (dengan peerubahan). Akh... mau tidur dimana saya. Setelah putar otak, memacu jantung, saya kuatkan niat untuk pulang. Lebih baik tidur diteras beratapkan langit, daripada tidur di rumput baratapkan beton (baca:jembatan).
Ternyata tuhan belum meninggalkan hambanya yang nista ini. Setelah pulang ternyata si Kakak masih bangun. Dan dengan wajah kusam membukakan pintu untuk adiknya yang merepotkan ini.
Hmm... What a luck. Dan itu semua ngga berakhir disitu saja. But thanx god, I always got through all this things. What a busy day...

Thursday, October 13, 2005

Greeting

Huah..........
Akhirnya dia bangun.
Membuka matanya,
mulia melihat dunia nyata.
Dunia yang kejam,
tanpa ampunan.

Dia mulai melangkahkan kakinya,
keluar dari dunia yang telah melindunginya selama ini.
Merasakan penatnya dunia,
dan egoisnya manusia.

Mulailah dia mencari,
mencari tujuan hidup yang sebenarnya,
mencari teman-teman seperjuangannya,
mencari orang-orang yang dapat mencintainya.

Tapi ini baru awal.
Masih luas dunia yang belum dia lihat.
Masih banyak pengalaman yang belum dia kecap.
Ini baru awal.