Hell Week!
Minggu ini merupakan "hell week" buat saya. Gimana ngga, minggu ini dipenuhi oleh berbagai assignment yang bejubel, belum lagi beban UTS yang ngga ada habis-habisnya. Anak-anak lain pun (teman-teman kampus) tampak udah pada disconect, hang, error, bahkan konslet.
Belum lagi pengalaman yang menyebalkan beberapa hari yang lalu. Ceritanya, hari itu qta mau ngeberesib tiga tugas sekaligus. Tugas Pendahuluan Fisika, Kimia, ama Makalah Olah Raga. Berhubung saya termasuk jenis manusia fotokopi (baca: manusia pemalas yang mengandalkan kelangsungan kuliahnya dari fotokopian orang lain), semua tugas baru dikerjain sesaat sebelum dikumpul.
Dasar pendosa memang dibenci Tuhan. Dua jam sebelum berbagai tugas itu dikumpul, sang sumber ditelepon (karena dismsin kaga bales-bales), adn ternyata dia ga bisa dateng karena Omnya meninggal. Akhirnya, dengan segala daya upaya, peras keringat, pantang menyerah, dan perdebatan alot saya menyusul ke rumahnya tuk ngambil tu fotokopian. Setelah bergelut dengan kemacetan kota dan sang surya yang juga tidak cukup bersahabat kala itu, saya pun tiba di komplek perumahan sang sumber. Ternyata saya beru sadar, saya lupa rumahnya yang mana.
Jam ditangan sudah memberi tahu jika satu setengah jam belum dikumpul itu tugas, maka tamatlah sudah. Segenap kekuatan dikumpulkan, seluruh urat malu diputuskan. Saya ketok salh satu pintu yang dikiranya adalah pintu yang tepat. Lima menit. Lima belas menit. Setengah jam. Bahkan ngga ada seekor kecoapun yang keluar. Teringat kemudian keajaiban teknologi abad 20. Handphone.
Akh.... What stupid person I am. Ternyata, handphone diapun nonaktif. What a luck!!! Setelah menggunakan cara jitu abad 32 (rahasia perusahaan), diketahuilah bahwa saya salah alamat. Rumah yang dituju masih dua rumah lagi. Tanpa pikir panjang dan dengan wajah masih berkeringat darah langsung menuju target. Mission Accomplished.
Sorenya nasib sial masih mengukuti. Setelah kuliah padat dan les yang tiada henti, masih harus diikuti dengan tugaas makalah olahraga yang belum beres siangnya (thanx to Photocopy tragedy). Berhubung baru beres sangat malam, ternyata sang ibunda belum bisa menerima kebiasaan anaknya yang diluar normal ini. Lalu sang ibunda berkata lewat smsny "nak, kamu ngga perlu pulang" (dengan peerubahan). Akh... mau tidur dimana saya. Setelah putar otak, memacu jantung, saya kuatkan niat untuk pulang. Lebih baik tidur diteras beratapkan langit, daripada tidur di rumput baratapkan beton (baca:jembatan).
Ternyata tuhan belum meninggalkan hambanya yang nista ini. Setelah pulang ternyata si Kakak masih bangun. Dan dengan wajah kusam membukakan pintu untuk adiknya yang merepotkan ini.
Hmm... What a luck. Dan itu semua ngga berakhir disitu saja. But thanx god, I always got through all this things. What a busy day...


0 Comments:
Post a Comment
<< Home